Pages

Sabtu, 22 Maret 2014

Mencintai dan merawat Bumi serta lingkungan

                                             Mencintai dan Merawat bumi serta Lingkungan ....

“ … Engkau memperkenankan kami hidup di bumi Indonesia, di tengah pulau-pulau dan lautan biru, di antara gunung-gunung dan dataran subur, di negeri yang kaya raya akan sumber-sumber alam … untuk mengolah sawah dan ladang, mengelola alam tanpa merusak lingkungan, memanfaatkan lautan yang kaya, membangun kota dan desa, serta menyiapkan hari depan yang lebih adil dan makmur, aman dan sentosa …”. Kutipan Doa Syukur Agung ini mengajak umat beriman untuk bersyukur atas bumi dan segala isinya yang disediakan Allah bagi kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia dan keberlangsungan keutuhan ciptaan.

Bumi dan segala isinya merupakan hasil karya Allah dan sekaligus tempat Allah bekerja. Allah yang
menyelenggarakan kehidupan di alam semesta ini dan tidak ada yang luput dari perhatian-Nya. Bumi menyediakan segala yang dibutuhkan oleh manusia untuk menjamin keberlangsungan hidupnya. Bahkan harus diakui, kehidupan manusia sepenuhnya bergantung pada bumi. Bumi memelihara kehidupan manusia. Oleh karena itu, Allah berkehendak supaya manusia ikut ambil bagian dalam mencintai dan merawat bumi dengan segala isinya. Mencintai dan merawat bumi menjadi ungkapan dan perwujudan syukur manusia atas kehidupan yang telah disediakan Allah bagi hidup manusia (bdk. Kej 2, 15-17). Jadi, siapakah manusia berani menghancurkannya ?

Bumi ; Sabda yang menjelma
Kitab Kejadian 1 menggambarkan peristiwa di dalam Sabda semua ciptaan terjadi. Bumi dengan segala isinya, baik yang ada di dalam bumi maupun di atas bumi semuanya merupakan penjelmaan Sabda. Manusia dipanggil untuk berjumpa sepenuhnya dengan semua ciptaan menurut model  yang masuk ke dalam dunia dengan menjadi “sama seperti kita, hanya tidak berbuat dosa”. Kehadiran  yang menjadi manusia mengarahkan manusia untuk cerdas dan kreatif mewujudkan nilai-nilai kemanusiaannya dalam menjaga dan memelihara keutuhan ciptaan.

Bumi sebagai Sabda yang menjelma akan memberikan kemakmuran dan keberlangsungan hidup manusia, sebagaimana Sabda yang menjelma menjadi manusia dalam . Tata kelola dan tata laksana manusia yang cerdas, arif dan bijaksana dalam mengolah dan mengelola bumi menjadi perwujudan sembah bakti kepada Allah Sang Pencipta Kehidupan. Bumi menjadi tempat dan sarana perjumpaan manusia untuk beribadah dengan benar kepada ‘Sang Sabda’ sendiri yaitu Allah.

“Allah menghendaki, supaya bumi beserta segala isinya digunakan oleh semua orang dan sekalian bangsa, sehingga harta–benda yang tercipta dengan cara yang wajar harus mencapai semua orang, berpedoman pada keadilan,  Bumi sebagai ‘rahim kehidupan’ akan memberikan hidup kepada manusia kalau manusia menghidupi nilai keadilan dan cinta kasih kepada bumi.

Semua manusia, tanpa kecuali, berhak menikmati dan mendapatkan sumber penghidupan dari rahim bumi, terlehih bahan pangan yang menjadi kebutuhan dasar hidup manusia. Dengan demikian manusia menanggapi Kabar Baik dalam penghayatan hidup bersama yang sedang mengumuli persoalan lingkungan dan pangan.
Manusia; Penjaga bukan perusak bumi

Allah menciptakan manusia menurut ‘gambar dan citra’ Allah sendiri  Gambar dan citra Allah ini di wujudkan oleh manusia dalam kebersamaannya dengan Allah untuk ikut menata, menjaga, memelihara dan mengembangkan bumi dengan segala isinya untuk kemakmuran dan kesejahteraan bersama dan keberlangsungan keutuhan ciptaan. Sebagai citra Allah, manusia mempunyai martabat sebagai pribadi yang mampu mengenali dirinya sendiri, menyadari kebersamaan dirinya dengan orang lain, dan bertanggung jawab atas makhluk ciptaan yang lain. Allah memberikan kepercayaan kepada manusia untuk memelihara dan mengolah dengan bijaksana alam semesta ini serta berupaya menciptakan hubungan yang harmonis di antara semua ciptaan 

Allah menciptakan manusia untuk hidup dan memelihara hubungan yang selaras dengan Allah sendiri dan dengan semua ciptaan. Ketika Allah menciptakan bumi dan segala isinya semua baik dan sempurna. Kebaikan dan kesempurnaan Allah untuk memberikan bumi dan segala isinya bagi keberlangsungan hidup manusia ditanggapi oleh hasrat manusia dengan menguasainya. Akar krisis pangan dan ekologis dewasa ini terletak pada kesalahan manusia sendiri, yang menguasai bumi dengan tidak merawat, menjaga dan memeliharanya dan bukan pada teknologi buah daya pikir manusia.

Krisis pangan dan ekologis yang terjadi saat ini, yang tampak dalam perubahan iklim, rendahnya produksi bahan pangan, kerusakan sumber-sumber pangan, hilangnya sumber-sumber hayati, habisnya sumber daya alam, munculnya penyakit dan gizi buruk, rentannya lingkungan dan meningkatnya jurang antara si kaya dan si miskin, bermula dari krisis dalam diri manusia. Pemahaman manusia tentang dirinya berubah banyak. Manusia beralih dari pemahaman diri sebagai ciptaan berakal budi yang serba kecukupan dan memiliki kebebasan untuk memilih apa yang baik dan cocok bagi hidup manusia, ke pemahaman diri sebagai ciptaan yang tidak pernah dapat menjadi puas. Manusia menjadikan teknologi sebagai alat pemuas hasrat yang tak terkendali.

Manusia terancam oleh apa yang dihasilkan dengan karya tangannya, intelektualnya dan kemauannya. Pegembangan teknologi yang tidak diterangi kebenaran sabda mengakibatkan suatu ancaman bagi lingkungan alami manusia. “… merupakan kehendak Sang Pencipta bahwa manusia berkomunikasi dengan alam sebagai ‘tuan’ dan ‘penjaga’ yang mulia dan pandai, dan bukan sebagai seorang ‘perusak’ dan ‘penindas’ yang angkuh”

Fungsi menyelamatkan Bumi mulai dari Diri Sendiri

                                            Fungsi Menyelamatkan Bumi  mulai dari diri Sendiri : 

Pemanasan global (global warming) memang benar-benar telah terjadi. Fakta terkini kian menegaskan bahwa dampak perubahan iklim semakin nyata. Cuaca berubah drastis, tak terkendali. Jakarta kerontang. Sawah-sawah di pedesaan meranggas kering. Emisi gas buang memadati udara yang kita hirup. Air bersih semakin susah. Namun, bumi terus dieksploitasi secara semena-mena. Hutan-hutan terus digunduli, limbah industri terus mencemari sungai-sungai, lautan menjadi tempat sampah raksasa, polusi udara menghitamkan langit, tambang-tambang terus digali, pemborosan energi makin berlebihan, dan banyak lagi perilaku manusia yang perlahan-lahan menghancurkan alam.
Keserakahan Manusia
Keserakahan manusia selama berabad-abad seakan tak pernah terpuaskan oleh apa pun. Bumi adalah sasaran empuk keserakahan manusia yang seakan tak akan habis dieksploitasi. Keserakahan memang tak ada batasnya. Batasnya hanya kematian, saat manusia kembali ke bumi, lenyap ditelan bumi, dan menjadi bagian dari bumi. Kerusakan alam semakin terlihat jelas dengan adanya berbagai bencana yang selalu datang silih ganti mulai dari bencana banjir, tanah longsor, dan naiknya permukaan air laut yang disebabkan makin tipisnya lapisan ozon. Semuanya tidak lepas dari campur tangan manusia yang makinbrutal dan cenderung tidak lagi mempunyai rasa kasih sayang terhadap keadaan bumi. Karena adanya kecenderungan tersebut, pada akhirnya manusia sendiri yang terkena akibat dari perubahan-perubahan alam itu sehingga pada tahap ini manusia dan alam saling mempengaruhi. Selanjutnya, manusia bisa menyadari kesalahannya dan mengubah fungsinya dari makhluk perusak menjadi makhluk pengelola lingkungan.
Apa yang bisa kita lakukan
Berbagai masalah lingkungan hidup sering tidak menjadi prioritas dan sering menjadi subagenda yang pada akhirnya larut dan tenggelam dalam tema-tema kampanye semata yang sifatnya lebih luas dan abstrak sehingga memunculkan keprihatinan yang absurd. Telah adakah kesadaran untuk memperlakukan bumi sebagai ibu pertiwi yang harus kita cintai dan hormati?
Ini pertanyaan besar yang harus dijawab oleh kita sebagai penghuni bumi, bukan hanya oleh pemerintah. Memang, pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk melindungi hutan, laut, gunung, sungai, tanah, satwa, tumbuhan, serta udara dari segala bentuk keserakahan manusia. Kita tak perlu mencari kambing hitam atas ketidakseimbangan ekologi ini karena tak akan pernah ada habisnya. Namun, kita pun sebagai masyarakat harus mampu memberikan kontribusi demi kelestarian bumi. Jika tidak, bumi akan terus makin panas dan kehancuran pun tak terelakkan lagi. Mulailah berintrospeksi pada lingkup kecil, yaitu pada diri sendiri. Sudahkah kita menyayangi bumi?
Efektifkan Penggunaan Kendaraan Bermotor
Di kota-kota besar, hampir selalu terdapat zat karbomonoksida (CO) sebagai akibat dari banyaknya kendaraan bermotor, industri-industri, dan sebagainya. Salah satu bentuk polusi yang tertangkap oleh indera mata adalah gejala smog, gabungan antara smoke (asap) danfog (kabut). Gejalanya adalah jika kota itu dilihat dari jauh hanya akan terlihat samar-samar karena tertutup oleh smog tersebut. Sekarang, Jakarta pun sudah mengalami gejala ini. Apa yang bisa kita lakukan? Kurangi penggunaan kendaraan pribadi. Jika setiap hari kita pergi ke kampus atau ke kantor dengan menggunakan mobil yang hanya ditumpangi oleh dua atau tiga orang, sekarang usahakanlah menggunakan kendaraan umum, bus TransJakarta misalnya. Atau jika kita sudah terbiasa menggunakan kendaraan pribadi, mungkin bersepeda ke kampus atau ke kantor adalah pilihan yang tepat, sekaligus menyehatkan. Akan tetapi, jika dua hal yang penulis tawarkan di atas dirasa kurang sreg maka pilihan lain adalah pintar-pintarlah dalam berkendaraan bermotor supaya tetap ramah pada lingkungan. Maksudnya, jika Anda mengalami kemacetan di jalan hingga stuck lebih dari tiga menit atau pun berhenti karena lampu merah lebih dari tiga menit, sebaiknya matikan mesin kendaraan Anda. Berdasarkan penelitian di Universitas NTU Singapura pada awal 2009, dinyatakan bahwa mesin kendaraan bermotor yang dinyalakan pada posisi tidak bergerak itu sama dengan jarak tempuh 1 km dengan kecepatan 50 km/jam. Dengan begitu, selain mengurangi panas terhadap bumi dan meminimalkan polusi udara, cara itu pun sehat untuk dompet Anda dalam membeli BBM.
Hemat Energi
Telepon genggam (hand phone/HP) dan laptop merupakan alat teknologi yang kini frekuensi pemakainya sudah tinggi pada masyarakat menengah, khususnya di Jakarta. Tanpa disadari, penggunaan HP dan laptop yang seenaknya turut memberikan kontribusi besar terhadap pemborosan energi listrik yang ujungnya berdampak pada pemanasan global. Tidak sedikit di antara kita yang tidak mencabut charger HP atau laptop ketika baterai sudah penuh. Malah, ada beberapa orang yang lupa mencabut charger tersebut dari stop kontak meski HPdan laptopnya sudah mereka cabut dari charger. Apa dampaknya bagi bumi? Energi listrik akan banyak terbuang secara percuma. Alhasil peluang lapisan ozon menipis sehingga bumi memanas semakin bertambah.
Cerdas Menangani Sampah Plastik
Sekarang ini sudah banyak pembahasan mengenai penanganan sampah. Mungkin sampah juga salah satu penanda akan gaya hidup konsumtif kelompok dan masyarakat yang menikmati tingkat kesejahteraan tinggi. Jenis sampah yang dibahas pada bagian ini adalah sampah plastik. Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai dari botol minum, TV, kulkas, pipa paralon, plastik laminating, gigi palsu,compact disk (CD), kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-alat militer hingga pestisida. Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan tetapi, kita tahu bahwa selain plastik tidak baik untuk kesehatan, plastik juga beresiko terhadap lingkungan. Perlu beribu tahun untuk menguraikan sampah plastik. Apa yang bisa kita lakukan? Kurangi penggunaan plastik. Jika Anda belanja ke super market, bawalah plastik sendiri dari rumah atau tas khusus yang telah Anda siapkan. Selain itu, jika Anda ingin membeli barang plastik, pilihlah yang dapat didaur ulang. Dengan begitu, Anda sudah turut berkontribusi dalam mengurangi sampah plastik dan itu salah satu langkah nyata dalam menyayangi bumi. Selain itu, perlu dipahami pula bahwa membuang sampah plastik terutama yang mengandungBisphenol-A sembarangan, dapat mencemari air tanah yang pada akhirnya dapat mencemari air minum banyak orang
Saran
Rasa kearifan manusia dalam mengubah dan mewujudkan kualitas bumi menjadi lebih baik adalah keharusan. Upaya menyelamatkan bumi harus disadari merupakan tanggung jawab bersama dan harus segera diselesaikan. Maka diperlukan suatu kekompakan dan komitmen bersama memecahkan problem tersebut. Sebab, bagaimanapun bumi merupakan habitat yang dihuni semua makhluk hidup.
Mulailah berintrospeksi pada lingkup kecil, yaitu pada diri sendiri. Sudahkah kita menyayangi bumi? Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan bumi ini, di antaranya: efektifkan penggunaan kendaraan bermotor, hemat energi, dan cerdas menangani sampah plastik. Dengan adanya kesadaran tersebut, diharapkan seluruh aspek masyarakat tergelitik dan sadar untuk lebih mencintai dan melestarikan bumi ini.